Sabtu Sore, 21 Juli 2007
Kenalkan, aku seekor
kura-kura kecil. Sore ini aku dibeli seorang cewek berjilbab bernama Dini. Dia
anak KAMMI lo… Hehehe. Kemudian, aku diberi nama Suhartoyo. Bisa dipanggil
Toyo. Kata Dini, namaku sama dengan nama seorang manusia. Ia sekarang menjabat
sebagai ketua Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat.
Rencananya, besok aku akan
diberikan kepada Ketua Kejati sebagai kado peringatan hari kejaksaan (22 Juli).
Aku adalah simbol lambatnya kejaksaan dalam menangani kasus korupsi di Jawa
Barat. Lihat saja kasus kaveling gate yang sudah empat tahun terkatung-katung.
Berkali-kali terjadi pergantian ketua Kejati juga tak memberikan hasil yang
signifikan terhadap penanganan korupsi di Jawa Barat. Jabar tetap saja
menduduki peringkat kedua propinsi terkorup versi ICW (Indonesian Corruption
Watch) dan peringkat pertama DPRD terkorup versi KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi).
Uppss… kok aku jadi
pinter gini ya. Yaa, Dini yang cerita ke aku.
Aku tak sabar menunggu
pagi, besok adalah aksi pertama yang kuikuti. Bareng siapa lagi kalo bukan
KAMMI.
Ahad pagi, 22 Juli 2007
Pagi-pagi aku dibawa ke
gedung Kejati Jabar. Untukku sudah disiapkan sebuah kotak mungil berpita pink.
Ah ya, tadi malam Dini berulang kali minta maaf padaku. Dia khawatir aku tidak
dipelihara dengan baik setelah diserahkan ke ketua kejati. Tapi bukankah sebuah
perjuangan memang memerlukan pengorbanan? Dan sebagai kura-kura, hanya itu yang
bisa kuberikan untuk perjuangan panjang menegakkan hukum di Jawa Barat. Aku
ingin mengatakannya pada Dini, tapi dia kan tidak mengerti bahasaku…. Ah,
semoga dia mengerti.
Setelah lama menunggu
akhirnya aksi dimulai juga. Saat itu aku berkenalan dengan Afie. Dia dan dini
memakaikan pita pink dibadanku dan memasukkanku ke kotak mungil yang sudah
disiapkan. Uhh, badanku terasa gatal. Aku berusaha melepas pita yang dipasang
di badanku. Dan… argh… berhasil. Syukurlah mereka tidak memakaikan lagi
pita itu.
Aksi yang dilakukan
kawan-kawan dari KAMMI adalah aksi diam. Tak ada yel-yel, tak ada toa
(megaphone). KAMMI menginginkan Kejati segera membungkam para koruptor yang
masih bebas berkeliaran. Satu peti mati untuk satu koruptor.
Saat Happening Art, penyerahan
secara simbolik diriku sebagai kado kepada ketua Kejati, aku serasa jadi artis
mendadak. Disorot kamera dan difoto para wartawan. Bahkan saat aku sudah
kembali berada di kantong plastik dan berpindah ke tangan Afie, mereka masih saja memotretku. Tangan Afie
sampai pegel katanya.
Aksi hampir berakhir
ketika dibacakan pernyataan sikap. Tapi ternyata, uppss… terjadi pemukulan
terhadap salah seorang kawan dari KAMMI oleh oknum Kejati. Aksi menjadi agak
ricuh. Polisi yang semula berjaga di seberang jalan turun tangan untuk
mengamankan situasi. Aku yang berada di barisan putri (di tangan Afie) dibawa
agak menjauh dari lokasi aksi. Ternyata kondisi masih terkendali, kami kembali
mendekati lokasi.
Barisan putri mulai
meneriakkan yel-yel, “Premanisme! Kejati Anarkis! Kejati Anarkis!”
“Praang!!” oknum kejati
kembali melakukan tindakan kekerasan. Sebuah botol dilempar ke arah peserta
aksi. Mengenai beberapa peserta aksi dan bahkan wartawan.
Kawan-kawan dan wartawan
memaksa pihak kejati untuk memberikan penjelasan. Aku tidak begitu mendengar
pernyataan dari kejati. Tapi dari pihak kawan-kawan dari KAMMI akan memproses
secara hukum, melaporkan kepada pihak polisi. Tepatnya Polres Bandung Tengah.
Kami pun berjalan menuju
polres Bandung Tengah. Sesampainya disana, beberapa orang mewakili KAMMI
melaporkan tindak kekerasan yang mereka alami. Sedangkan yang lain menunaikan
Sholat Dhuhur di Musholla Polres.
Setelah itu, aksi ditutup.
Besok, kawan-kawan dari KAMMI akan menyelenggarakan pers release terkait
kejadian tersebut.
Yah, semoga dilancarkan.
Katakan Hitam adalah Hitam
Katakan Putih adalah Putih
Itulah pengalaman
pertamaku mengikuti sebuah aksi. Muantab!!
Dan karena kejati tidak
menerimaku, aku kini tinggal bersama Afie. Katanya sih mau dibelikan teman.
Menanti seorang kawan. Haha.
Bojongsoang, 22 Juli 2007
Untuk seorang kawan, sebuah gerakan akan
menjadi massif ketika mengusung sebuah isu yang merakyat secara konsisten.
Jumlah massa yang besar akan sangat berpengaruh terhadap pressure yang
dilakukan, tapi jumlah yang sedikit takkan membuat kammi berhenti bergerak.
Bergerak tuntaskan perubahan.