Ruang Bermain
Dunia anak adalah sebuah dunia yang begitu menarik. Dunia tanpa kesedihan. Bermain adalah cara mereka bersenang-senang. Bermain adalah cara mereka belajar. Bermain adalah cara mereka bersosialisasi. Bermain adalah cara mereka mengenal dunia. Maka memberi anak-anak ruang untuk bermain adalah penyempurnaan pendidikan yang diberikan untuk mereka. Ya, sebuah pendidikan yang integral dan non-dikotomik.
Namun, lihatlah sekeliling kita. Betapa ruang-ruang itu telah tergusur oleh kepentingan-kepentingan orang-orang dewasa. Setiap jengkal tanah begitu diperhitungkan secara ekonomi. Kota penuh sesak dengan pemukiman, mall-mall, dan perkantoran. Tapi tidak menyisakan tempat bermain bagi anak-anak. Tidak akan mendatangkan profit, begitu kaum oportunis berpikir. Maka gang-gang sempit beralih fungsi menjadi arena bermain. Bagi sebagian anak-anak, mereka kemudian menjadi lebih akrab dengan mall-mall. Di sini budaya konsumtif mulai tertanam. Tambang uang bagi kaum kapitalis.
Sekolah-sekolah telah menjauh dari tujuan pendidikan. Sekolah adalah pencetak kaum pekerja dan murid-murid adalah pencetak nilai-nilai ujian. Tugas murid adalah belajar berhitung dan menghafal, dari pagi sampai sore, enam hari dalam seminggu. Bergelut dengan teori dan teori. Ya, Nyaris tak ada waktu dan tempat lagi untuk bermain bagi anak-anak.
(bersambung…)