Muslimah, Riwayatmu Kini

Beberapa waktu yang lalu seorang kawan berkata,“Muslimah hari ini tidak politis.” Sebuah kalimat yang cukup menohok, tambahan, disampaikan dalam sebuah forum berskala Bandung Raya. Banyak yang kemudian tidak terima dengan pernyataan ini. Tapi ketika kemudian saya telaah kembali, memang benar apa yang diucapkannya.

Awalan, kita samakan dulu persepsi kita mengenai politik. Atau paling tidak saya sampaikan dulu persepsi saya mengenai politik. Mengutip ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Banna: “Berpolitik adalah salah satu aktivitas dalam dakwah yang muaranya adalah untuk mengurusi umat hingga mengangkat mereka ke kedudukan sebagaimana yang diperintahkan al-Qur’an di tengah-tengah manusia.”

Dalam bahasa Arab politik diterjemahkan sebagai “Siyasah” atau strategi, dengan cakupan definisi yang lebih luas dari kata politics. Kata politics sendiri lebih dekat maknanya dengan kebijakan pemerintah atau kekuasaan.

Kembali ke topik awal, tentang “muslimah hari ini tidak politis.” Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi. Pertama, saat ini masih banyak muslimah yang belum melek politik, belum mengerti tentang peran politiknya. Padahal ada banyak aspek keummatan yang menanti peran muslimah.

Konferensi Dunia di Beijing tahun 1995, mencatat 12 bidang penting perempuan yang perlu diperhatikan baik oleh lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah :

1. Anak perempuan
2. Pendidikan dan pelatihan perempuan
3. Hak asasi perempuan
4. Tindak kekerasan terhadap perempuan
5. Perempuan dan ekonomi
6. Perempuan dan kemiskinan
7. Perempuan dan konflik bersenjata
8. Perempuan dalam kekuasaan dan pengambilan keputusan
9. Mekanisme kelembagaan dan kemajuan perempuan
10. Perempuan dan media massa
11. Perempuan dan lingkungan hidup
12. Perempuan dan kesehatan

Yang lebih banyak memperjuangkan hak-hak perempuan saat ini adalah kaum feminis.

Kedua, kesalahan persepsi terhadap perempuan. Menurut Asma binti Qa’dah, doktor ilmu politik dan produser acara kewanitaan di TV Al Jazeera, literatur-literatur kewanitaan di dunia Islam yang ditulis oleh para intelektual dan ulama Islam menjelaskan dua hal; wanita barat itu terhina sedangkan wanita Islam baik dan terhormat, sehingga kesimpulannya tidak ada masalah dengan wanita. Padahal realita sehari-hari berbicara lain dimana kondisi kaum wanita di dunia Islam tidak kalah buruknya dengan wanita barat. Bahkan mungkin lebih parah.

Kesalahan persepsi inilah yang kemudian membuat wanita hanya dilibatkan ketika diperlukan saja, di luar itu mereka tidak pernah dilibatkan dalam proses penting dan pengambilan keputusan. Wajar saja kalau kemudian wanita hanya dijadikan sebagai pelengkap penderita (komplemen) dan tidak memegang peran penting.

Karenanya, untuk membenahi kondisi muslimah yang “tidak politis” itu, semestinya kita melihat lebih jauh tentang peran dan posisi wanita secara utuh. Bagaimana kemudian menempatkan wanita dalam dua konteks: (1) dalam konteks peradaban dan (2) dalam konteks peran peradaban.

Wanita juga memiliki peran yang sama dengan laki-laki dalam membangun peradaban. Wanita merupakan salah satu komponen perubah peradaban. Tidak mungkin dalam membangun peradaban hanya mengandalkan laki-laki saja. Karena tugas membangun peradaban Islam tidak hanya dibebankan kepada laki-laki. Tapi dibebankan kepada manusia, yang didalamnya ada laki-laki dan perempuan.

Disarikan dari berbagai sumber
Bojongsoang, 20 Maret 2007
12.30

Kepada anda, kaum laki-laki, biarkan kami memainkan peran-peran kami.

Leave a Reply