Siapa Suka?

Hidup di atas ironi-ironi.
Siapa yang suka? Ada ironi tentang arti kaya dan miskin. Hasil survei Merrill
Lynch dan Capgemini melaporkan, sepertiga dari 55 ribu orangn kaya Singapura
adalah orang Indonesia. Jumlah mereka mencapai 18 ribu orang dan berstatus permanent resident(warga asing yang
mendapat izin tinggal permanen) di singapura. Lembaga keuangan global itu
menaksir nilai Aset orang Indonesia di sana mencapai Sin$ 87 Miliar atau
sekitar Rp 506,8 Triliun.

 

Menurut Indonesia
Corruption Watch, dana-dana parkir dari Indonesia yang disimpan di Singapura
mayoritas adalah milik para pengemplang utang. Sebelum ini, di akhir tahun 2006
lalu, orang terkaya di Indonesia yang dirilis Forbes adalah Sukanto Tanoto,
alias Tan Kang Hoo, adalah juga pengemplang utang dengan nilai lebih dari 5
Triliun. Bahkan menurut Direktur Uatama Indonesian Asset Watch (IAW), M Donk
Ghanie, utangnya mencapai 1,455 miliar dolar AS atau Rp 12 triliun.
Pengembalian utang itu akan sangat sulit. Sebab, orang dalam bank, dari bank-bank
yang meminjamkan utang itu diduga juga terlibat. Sungguh tragis.

 

Bagaimana dengan orang
miskin di Indonesia? Jumlahnya diperkirakan menjadi lebih dari 40 juta orang.
Ini ironi tentang ke mana mencari kekayaan, dan di mana kekayaan itu diumumkan sebagai
simbol kemajuan bangsa…. juga soal bagaimana merampok di Indonesia, lalu
mencucinya di luar negeri. Ironi kaya dan miskin di jaman modern ini, semakin
memiliki pola, definisi, dan bahkan kosakata yang sangat rumit.

 

Hidup di bawah ironi.
Siapa mau? Ada ironi tentang demokrasi dan demokrat. Yudi Latif mengatakan,
demokrasi sebenarnya sebangun dengan cita-cita ideal yang diinginkan pendiri
bangsa ini, mulai dari kemanusiaan, perwakilan, kesejahteraan, dan keadilan
sosial. Namun sangat disayangkan, menurutnya, demokrasi yang berjalan di
Indonesia saat ini tanpa demokrat. Maksudnya, tak banyak orang yang benar-benar
berjiwa demokrat, benar-benar menjalankan demokrasi. Salah satu akibatnya, tak ada kepastian hukum.

 

Ada ironi antara advokasi
dan advokat. Menurut advokat Kamal Firdaus, visi organisasi advokat saat ini
sudah bergeser. Dulu, menurutnya, Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradin)
dengan tokohnya seperti Yap Thian Hien, Suardi Tasrif, dan Adnan Buyung
Nasution, banyak membuat gerakan dan gebrakan yang signifikan terhadap dunia
peradilan. Peradin juga banyak bersuara soal ideologi negara hukum yang
diperjuangkan. Namun sekarang setelah rezim otoriter tidak berkuasa lagi,
hampir tak ada lagi perjuangan ideologi maupun pemikiran soal negara hukum.  Malah, menurutnya, kini lebih banyak menjadi
perjuangan mengejar materi. Mengedepankan kehidupan yang glamour, jauh dari
pembelaan rakyat kecil.

 

Ada ironi antara
kewaspadaan dengan ketidakpercayaan. Dalam banyak hal, bahkan. Seorang pemilik
warung di Cirebon memasukkan sampah-sampahnya ke kardus. Lalu menutup kardus
itu dengan lack ban. Ia tertidur, dan
sampah itu diambil orang gila dan diletakkan di peinggir jalan. Saat pemilik
warung itu terbangun, sudah ada police
line
, pasukan gegana, dan kerumunan orang. Berkali-kali pemilik warung itu
menjelaskan bahwa itu hanya sampahtapi tak percaya. Sempah pun dibawa ke kantor
polisi. Setelah benar-benar sampah, pemilik warung itu malah sempat
diinterogasi seputar kaitanyya dengan teroris.

 

Ada ironi tentang kecanggihan
teknologi buatan manusia. Sebuah penerbangan di Toronto, Amerika, ditunda
hampir satu jam. Sebabnya, seorang penumpang tersengat kalajengking. Setelah
itu petugas sibuk mencari kalajengking lain. Teknologi dibuat canggih untuk
memburu tertuduh teroris, tapi seekor makhluk Allah sekaligus salah satu
tentara Allah bernama kalajengking sudah membuat banyak orang kalangkabut.

 

Kita seringkali hidup di
atas ironi-ironi yang kita ciptakan sendiri. Siapa suka?

 

Tarbawi Edisi 148 Th. 8/Muharram 1428H/1 Februari
2007 M

Leave a Reply