Menjadi Aktivis Pergerakan

“Resiko menjadi aktivis
pergerakan adalah mati. Apakah Anda sudah siap dengan resiko ini?”, begitu kata
seorang aktivis senior di suatu forum yang saya hadiri akhir November lalu. “Apakah
Anda sudah siap, berbulan-bulan harus bersembunyi, jauh dari keluarga, karena
dikejar-kejar aparat?” lanjutnya. Beliau juga menceritakan seorang sahabatnya
sesama aktivis yang dibunuh dengan skenario mal praktek. Kita lihat apa yang
terjadi pada Munir, seorang yang sangat vokal memperjuangkan HAM. Dan masih
banyak contoh lainnya.

 
Tapi jika kita pikirkan
kembali, apakah menjadi aktivis pergerakan kemudian menjadikan kita lebih dekat
dengan kematian? Maka jawab saya, “Tidak.”

 
Kematian bisa menyapa
manusia di mana pun ia berada, pada kondisi apa pun, bila waktunya memang telah
tiba. Tidak selalu karena kecelakaan, perang, bencana dan usia tua. Ia dapat
menghampiri di sekolah, di kantor, di jalanan, di rumah, hatta di dalam sebuah
gua yang tertutup rapat. Ajal akan tetap datang menghampiri. Karena kematian
tidak bisa ditangguhkan atau dipercepat walau sedetik pun.

 
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian)
seseorang apabila telah datang waktu kematiannya.”
(QS. Munafiquun : 11)

 
Bagaimanapun kematian
adalah karib kita yang paling dekat. Imam Ghazali mengatakan, “Sesungguhnya
yang paling dekat dengan kita dalam kehidupan adalah kematian.”

 
Jadi, perbedaan jika kita
menjadi Aktivis Pergerakan atau tidak, bukan terletak pada lebih dekatnya kita
dengan kematian atau tidak, tapi menjadi lebih produktif hidup kita atau tidak.

 
Maka, apalagi yang kita
takutkan? Bukankah setiap kita menginginkan hidup kita yang sekali ini menjadi
lebih produktif, menjadi lebih bermanfaat bagi umat?

 

                                                                          Sudut kamar Bojongsoang,
28 Januari 2007

                                                                                                        00.05 WIB

 
Catt : yang dimaksud
dengan aktivis pergerakan di sini adalah aktivis pergerakan yang memperjuangkan
kebenaran, bukan memperjuangkan materi dari politisi busuk.

Leave a Reply