Archive for February, 2007

kAUM wANITA pERUBAH pERADABAN

Monday, February 19th, 2007

                                                                                            Versi pertama 2000

36 tahun sudah aku menjadi perempuan

Baik dulu, sebagai anak… perempuan,

lalu menjadi seorang gadis… masih perempuan,

lalu berani memutuskan menjadi istri… juga perempuan…

hingga ku menjadi ibu saat ini aku tetap perempuan,

dan akan selamanya jadi perempuan

36 tahun sudah aku menjadi perempuan

Selama masa hidup yang panjang itu
lama baru kusadari betapa sulitnya ternyata menjadi anak perempuan dulu itu

dan lebih sulit lagi menjadi istri yang telah kujalani sekian tahun ke sini

dan yang tersulit dari itu… ketika lahir anak-anakku… dan aku dipanggil:

IBU!

Menjadi ibu dan dipanggil ibu

sebab ada anak-anak yang lahir dan tumbuh besar semakin besar

di kedua lingkar tangan dan mata ini;

menjadi ibu dan dipanggil ibu
lantaran itulah terminal akhir dari perjalanan hidup dan kehidupan perempuan;

menjadi ibu semesta alam karena itulah puncak karir kehidupan

Begitulah aku selalu diajarkan

Tapi oiiii… alangkah sulitnya jadi kaum perempuan

Beban jadi orang perempuan ini beraneka ragam

Bukan hanya soal melahirkan, menjaga kesucian, atau harus ikut cari makan,

dan bahkan diserahi tanggung jawab pendidikan, tapi yang lebih lagi begini:

Para lelaki yang kami cintai

sampai hari ini masih juga belum mengerti si tulang-rusuk ambilan ini
membutuhkan kawan untuk berbagi

Apa yang diperjuangkan Ibu Kartini di negeri ini sering ditafsirkan
seenaknya sendiri

Lebih dari 100 juta kita, kaum perempuan di negeri ini

tidak benar-benar mengerti makna emansipasi

Dan mengapa kita perempuan yang musti mengubah peradaban ini?

Jika laki-laki memutuskan dengan akalnya,
perempuanlah yang menggenapkan dengan hatinya

Jika laki-laki memandang dengan matanya, perempuanlah yang mengantarkannya pada jiwanya

Bukankah keadilan Tuhan sesungguhnya telah nyata

Segala yang dicipta saling berpasangan, saling melengkapkan, begitu seharusnya

Tak ada menang dan kalah dalam pengabdian ini,

tak boleh menafsirkan harmonisasi menjadi emansipasi,

Karena itulah izinkan aku berkata sejujurnya

bahwa engkau, aku dan 100 juta lebih kaum perempuan di negeri ini
bersama kaum lelaki
kita akan mampu memimpin negeri ini kembali berdiri

Jika kita mensyukuri keelokan budayanya

kaum lelaki adil membagi kekayaan alamnya

Jika kita menjaga keindahan tata kehidupannya,

kaum lelaki mendahulukan akhlak bangsa

hingga  negeri ini bangkit kembali pun tanpa gerakan-gerakan kesetaraan
segala macam sekalipun

Bisa kita hanya dengan sangat sederhana di rumah-rumah kita!

Dari diri kita, para ibu, para istri, perempuan dewasa, dan gadis remaja
dan
bahkan anak-anak perempuan kita

Kita mampu membawa obor perubahan dalam diri kita

Bawa masyarakat ini dari kegelapan menuju cahaya!

Cahaya peradaban baru!

Peradaban yang nyaman meski hidup dalam perbedaan,

mulia dalam perilaku meski dalam tantangan,
dan sejahtera luar dalam bagi penduduk darat dan lautan

Kini kukatakan kepadamu
wahai kaumku, di tangan kitalah bola ditawarkan!

Bawa bangsa ini keluar dari kegelapan

Tegakkan bahumu, kuatkan kedua kaki, dalam keputusanmu,

nasib bangsa ini dititipi, berdirilah engkau di rumah-rumahmu,

dan biarkan hati nurani memimpinmu

Lihatlah semua kelalaian akan waktu

Tumpukan pekerjaan dan keluhan yang menghabiskan setiap detik hidupmu
membuat anak-anak tak lurus menyebut nama Tuhanmu,
tidakkah kita malu?

Dua buku warisan penyelamat hidup kau biarkan menjadi debu
Bagaimana anak-anak kita bisa mencintai Tuhannya, sedangkan kita sibuk
luar biasa?

Bagaimana anak kita bisa mencintai Rasul-Nya, sedangkan kita sendiri juga
belum mengenalnya?

Maka dengarkan suara yang terdalam dalam sujud tengah malam
Pandanglah dirimu dari pancaran air yang hina, kini berubah menjadi
pengingkar yang nyata

Ketika nama Tuhan tak lagi menggetarkan jiwa…

Maka marilah, kau dan aku, selenggarakan lagi rumah tangga ini

Kau boleh bekerja, tapi jangan kau lupa para lelakimu,
ajaklah duduk merendah
Istiqomah kembali kepada aturan Allah,

dan buatlah dirimu mengerti jika kita terbang terlalu tinggi,
anak-anak
hanya akan dididik oleh televisi

Dan janganlah menyangka seolah sia-sia pelajaran sekolah jika kita tak keluar rumah.
Minnadzdzulumaat ila nuur, Minnadzdzulumaat ila nuur, Minnadzdzulumaat ila nuur

Inilah yang mengilhami Kartini; berangkat hijrah dari kegelapan menuju cahaya

Cahaya Peradaban baru.
Peradaban mengikuti aturan Tuhan yang satutidak dua, tidak tiga.
Satu! AHAD! AHAD!

Dan suatu hari di masa depan nanti, aku rindu mendengar ini dari mulut-mulut dan hati para perempuan yang kucintai:

Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzdzibaan!

Alangkah banyak Nikmat-Nya yang tak dapat kita,
kaum perempuan, dustakan!

[Neno Warisman, Izinkan Aku Bertutur: 2004]

Menjadi Aktivis Pergerakan

Wednesday, February 7th, 2007

“Resiko menjadi aktivis
pergerakan adalah mati. Apakah Anda sudah siap dengan resiko ini?”, begitu kata
seorang aktivis senior di suatu forum yang saya hadiri akhir November lalu. “Apakah
Anda sudah siap, berbulan-bulan harus bersembunyi, jauh dari keluarga, karena
dikejar-kejar aparat?” lanjutnya. Beliau juga menceritakan seorang sahabatnya
sesama aktivis yang dibunuh dengan skenario mal praktek. Kita lihat apa yang
terjadi pada Munir, seorang yang sangat vokal memperjuangkan HAM. Dan masih
banyak contoh lainnya.

 
Tapi jika kita pikirkan
kembali, apakah menjadi aktivis pergerakan kemudian menjadikan kita lebih dekat
dengan kematian? Maka jawab saya, “Tidak.”

 
Kematian bisa menyapa
manusia di mana pun ia berada, pada kondisi apa pun, bila waktunya memang telah
tiba. Tidak selalu karena kecelakaan, perang, bencana dan usia tua. Ia dapat
menghampiri di sekolah, di kantor, di jalanan, di rumah, hatta di dalam sebuah
gua yang tertutup rapat. Ajal akan tetap datang menghampiri. Karena kematian
tidak bisa ditangguhkan atau dipercepat walau sedetik pun.

 
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian)
seseorang apabila telah datang waktu kematiannya.”
(QS. Munafiquun : 11)

 
Bagaimanapun kematian
adalah karib kita yang paling dekat. Imam Ghazali mengatakan, “Sesungguhnya
yang paling dekat dengan kita dalam kehidupan adalah kematian.”

 
Jadi, perbedaan jika kita
menjadi Aktivis Pergerakan atau tidak, bukan terletak pada lebih dekatnya kita
dengan kematian atau tidak, tapi menjadi lebih produktif hidup kita atau tidak.

 
Maka, apalagi yang kita
takutkan? Bukankah setiap kita menginginkan hidup kita yang sekali ini menjadi
lebih produktif, menjadi lebih bermanfaat bagi umat?

 

                                                                          Sudut kamar Bojongsoang,
28 Januari 2007

                                                                                                        00.05 WIB

 
Catt : yang dimaksud
dengan aktivis pergerakan di sini adalah aktivis pergerakan yang memperjuangkan
kebenaran, bukan memperjuangkan materi dari politisi busuk.

Wednesday, February 7th, 2007

Mereka berkata,“Kebahagiaan ada pada diam

pada hidup diantara keluarga,

bukan hidup sebagai muhajir dan terusir

pada perjalanan di belakang kafilah

pada kenyamanan dan pada langkah santai

pada perkataan yang mengikuti apa yang telah dikatakan

tanpa sanggahan dan penolakan

pada perjalanan bersama kelompok

dituntun, bukan menuntun

Pada teriakan kepada setiap penguasa :

Jayalah masamu yang agung”

Kukatakan,“Hidup adalah pergerakan

bukan pada diam dan beku

hidup adalah perjuangan

apakah orang-orang yang duduk terpaku bisa berjuang
hidup
adalah menikmati keletihan-keletihan

bukan menikmati tidur

hidup adalah membela tanah air

orang merdeka mana yang bisa membela!

hidup adalah merasakan kehinaan

berisi air nanah

hidup adalah kau hidup sebagai khalifah

di bumi, tugasmu berkuasa

dan berkata: tidak dan ya, kapan saja kau mau

dengan pandangan yang tajam”

(Yusuf al Qardhawy)

Siapa Suka?

Wednesday, February 7th, 2007

Hidup di atas ironi-ironi.
Siapa yang suka? Ada ironi tentang arti kaya dan miskin. Hasil survei Merrill
Lynch dan Capgemini melaporkan, sepertiga dari 55 ribu orangn kaya Singapura
adalah orang Indonesia. Jumlah mereka mencapai 18 ribu orang dan berstatus permanent resident(warga asing yang
mendapat izin tinggal permanen) di singapura. Lembaga keuangan global itu
menaksir nilai Aset orang Indonesia di sana mencapai Sin$ 87 Miliar atau
sekitar Rp 506,8 Triliun.

 

Menurut Indonesia
Corruption Watch, dana-dana parkir dari Indonesia yang disimpan di Singapura
mayoritas adalah milik para pengemplang utang. Sebelum ini, di akhir tahun 2006
lalu, orang terkaya di Indonesia yang dirilis Forbes adalah Sukanto Tanoto,
alias Tan Kang Hoo, adalah juga pengemplang utang dengan nilai lebih dari 5
Triliun. Bahkan menurut Direktur Uatama Indonesian Asset Watch (IAW), M Donk
Ghanie, utangnya mencapai 1,455 miliar dolar AS atau Rp 12 triliun.
Pengembalian utang itu akan sangat sulit. Sebab, orang dalam bank, dari bank-bank
yang meminjamkan utang itu diduga juga terlibat. Sungguh tragis.

 

Bagaimana dengan orang
miskin di Indonesia? Jumlahnya diperkirakan menjadi lebih dari 40 juta orang.
Ini ironi tentang ke mana mencari kekayaan, dan di mana kekayaan itu diumumkan sebagai
simbol kemajuan bangsa…. juga soal bagaimana merampok di Indonesia, lalu
mencucinya di luar negeri. Ironi kaya dan miskin di jaman modern ini, semakin
memiliki pola, definisi, dan bahkan kosakata yang sangat rumit.

 

Hidup di bawah ironi.
Siapa mau? Ada ironi tentang demokrasi dan demokrat. Yudi Latif mengatakan,
demokrasi sebenarnya sebangun dengan cita-cita ideal yang diinginkan pendiri
bangsa ini, mulai dari kemanusiaan, perwakilan, kesejahteraan, dan keadilan
sosial. Namun sangat disayangkan, menurutnya, demokrasi yang berjalan di
Indonesia saat ini tanpa demokrat. Maksudnya, tak banyak orang yang benar-benar
berjiwa demokrat, benar-benar menjalankan demokrasi. Salah satu akibatnya, tak ada kepastian hukum.

 

Ada ironi antara advokasi
dan advokat. Menurut advokat Kamal Firdaus, visi organisasi advokat saat ini
sudah bergeser. Dulu, menurutnya, Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradin)
dengan tokohnya seperti Yap Thian Hien, Suardi Tasrif, dan Adnan Buyung
Nasution, banyak membuat gerakan dan gebrakan yang signifikan terhadap dunia
peradilan. Peradin juga banyak bersuara soal ideologi negara hukum yang
diperjuangkan. Namun sekarang setelah rezim otoriter tidak berkuasa lagi,
hampir tak ada lagi perjuangan ideologi maupun pemikiran soal negara hukum.  Malah, menurutnya, kini lebih banyak menjadi
perjuangan mengejar materi. Mengedepankan kehidupan yang glamour, jauh dari
pembelaan rakyat kecil.

 

Ada ironi antara
kewaspadaan dengan ketidakpercayaan. Dalam banyak hal, bahkan. Seorang pemilik
warung di Cirebon memasukkan sampah-sampahnya ke kardus. Lalu menutup kardus
itu dengan lack ban. Ia tertidur, dan
sampah itu diambil orang gila dan diletakkan di peinggir jalan. Saat pemilik
warung itu terbangun, sudah ada police
line
, pasukan gegana, dan kerumunan orang. Berkali-kali pemilik warung itu
menjelaskan bahwa itu hanya sampahtapi tak percaya. Sempah pun dibawa ke kantor
polisi. Setelah benar-benar sampah, pemilik warung itu malah sempat
diinterogasi seputar kaitanyya dengan teroris.

 

Ada ironi tentang kecanggihan
teknologi buatan manusia. Sebuah penerbangan di Toronto, Amerika, ditunda
hampir satu jam. Sebabnya, seorang penumpang tersengat kalajengking. Setelah
itu petugas sibuk mencari kalajengking lain. Teknologi dibuat canggih untuk
memburu tertuduh teroris, tapi seekor makhluk Allah sekaligus salah satu
tentara Allah bernama kalajengking sudah membuat banyak orang kalangkabut.

 

Kita seringkali hidup di
atas ironi-ironi yang kita ciptakan sendiri. Siapa suka?

 

Tarbawi Edisi 148 Th. 8/Muharram 1428H/1 Februari
2007 M

Bazigha dan Pesona Yusuf

Sunday, February 4th, 2007

Oleh: Nadirsyah Hosen

Pada mulanya adalah sebuah kekaguman. Seorang wanita jelita nan kaya raya terpesona akan keindahan Yusuf alaihis salam yang ramai dibicarakan orang. Rasa kagum tersebut membawanya menemui sang pujaan. Mata menjadi silau dan bibir pun menjadi kelu; sorot mata sang pujaan menghujam kalbu sehingga kata-kata tak mampu melukiskan sebuah ketakjuban.

Bazigha, demikian nama wanita tersebut, jatuh pingsan dibuai pesona dan keindahan Yusuf. Lepas dari puncak keterpesonaannya, Bazigha bangun dan berlutut seraya memuja ketampanan dan keindahan Yusuf.

Yusuf melangkah mendekati Bazigha. Diringi senyumnya yang menawan Yusuf menasehati Bazigha, "Ketika matamu melihat keindahan dunia ini, sesungguhnya itu adalah sepercik tanda (ayat) tentang Dia. Makhluk yang indah hanyalah sekuntum bunga nan mekar di sebuah taman Allah yang luas tak bertepi. Jika matamu mampu melihat dibalik kesempurnaan itu, tentulah engkau akan melihat bahwa kuntum bunga itu tak lain hanyalah cermin yang memantulkan gambaran wajah-Nya."

"Begitulah Bazigha," Yusuf melanjutkan kalimatnya yang menghentak kesadaran sang jelita, "penampilanku pada hakekatnya adalah bagaikan kuntum bunga itu; pantulan wajah ilahi. Namun engkau mesti menyadari bahwa gambar akan memudar, kuntum bunga akan beranjak layu dan pantulan cermin pun akan tertutup oleh Cahaya ilahi. Hanya Allah sajalah yang hakiki dan abadi."

"Untuk itu, duhai Bazigha…mengapa engkau buang waktumu untuk mengagumi sesuatu yang akan lenyap dan pudar. Pergilah langsung ke sang Sumber tanpa menunda-nunda lagi."

Bazigha terperangah. Boleh jadi dia terkejut mendapati bahwa sosok nan sempurna dihadapannya ternyata tidaklah hakiki; hanya sekuntum bunga yang akan layu dan pantulan cahaya yang tertutup oleh kebesaran Maha Cahaya; Cahaya di atas cahaya (nur ‘ala nur). Keterpesonaannya ternyata baru pada level "asesoris"; belum "substantif".

Boleh jadi kita seperti Bazigha. Kita terpesona pada hal-hal yang tidak hakiki. Lihatlah diri kita…betapa kita terpesona akan gelar akademik yang kita miliki, harta dan anak yang menemani kita, isteri cantik yang melayani kita bahkan sandang, pangan dan papan yang menjadi incaran kita.

Seperti Yusuf yang menasehati Bazigha, mengapa kita tidak langsung berjalan menuju sumber segala pesona. Mengapa kita habiskan
waktu kita hanya untuk mengejar kenikmatan kuntum bunga yang akan layu. Lepaskan ego diri kita, buang rasa takjub kita, dan berjalanlah menuju-Nya.

Boleh jadi di ujung perjalanan nanti, kita akan terkejut melihat keindahan-Nya yang hakiki nan abadi. Pada mulanya adalah kekaguman; dan pada akhirnya adalah: Subhanallah! Maha Suci Allah!

www.isnet.or.id

Anakmu bukan milikmu

Sunday, February 4th, 2007

Anakmu bukan milikmu.

Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri.

Lewat engkau mereka lahir, tapi tidak dari engkau,

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih sayangmu,

Tapi, jangan sodorkan bentuk pikiranmu,

Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kauberikan rumah untuk raganya,

Tapi, tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam mimpi.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun, jangan membuat mereka menyerupaimu.

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian,

Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,

Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

(Dikutip dari Sang Nabi, Pustaka Jaya, Jakarta,1993:22-24)