Friday, December 1st, 2006
DARI IBU SEORANG DEMONSTRAN
“Ibu telah merelakan kalian
Untuk berangkat demonstrasi
Karena kalian pergi menyempurnakan
Kemerdekaan negeri iniYa, ibu tahu mereka tidak menggunakan gada
Atau gas air mata
Tapi langsung peluru tajam
Tapi itulah yang dihadapi
Ayah kalian almarhum
Delapan belas tahun yang laluPergilah pergi, setiap pagi
Setelah dahi dan pipi kalian Ibu ciumi
Mungkin ini pelukan penghabisan
(ibu itu menyeka sudut matanya)Tapi ingatlah, sekali lagi
Jika logam itu memang memuat nama kalian
(ibu itu tersedu sesaat)Ibu relakan
Tapi jangan di saat terakhir
Kau teriakkan kebencian
Atau dendam kesumat
Pada seseorang
Walaupun betapa zalimnya
Orang ituNiatkanlah menegakkan kalimah Allah
Di atas bumi kita ini
Sebelum kalian melangkah setiap pagi
Sunyi dari dendam dan kebencian
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan
Serta Rasul kita yang tercintaPegilah pergi
Iwan, ida, dan hadi
Pergilah pergi
Pagi ini(mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta
Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka
Dan berangkatlah mereka bertiga
Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)Taufik Ismail, 1966
Jadi ingat kejadian hampir dua pekan yang lalu. Indonesia didatangi oleh penjahat perang nomer satu di dunia, siapa lagi, George W.‘ar’ Bush. Maka siapa yang rela Bush menginjakkan kaki di Indonesia? Demonstrasi penolakan pun digelar di mana-mana, termasuk di Bandung. Saya pun ikut turun beberapa kali.
Sehari menjelang kedatangan Bush, Bogor sudah dipenuhi aparat baik polisi, brimob, maupun TNI AD, bersenjata lengkap. Siap perang.
Senin pagi, hari kedatangan Bush, saya ditelpon ibu.
“Fi, nggak usah ikut demo-demo.”
Tampaknya ibu sudah berfirasat kalau saya akan ke Bogor. Serem kali ibu melihat Bogor siap perang seperti itu.
“Nggih,” kata saya.
“Bener lho, nggak usah ikut demo-demo,” ibu memastikan.
“Nggih demo,” jawabku. “Di bandung kok,” buru-buru saya melanjutkan.
“O, ya sudah,” jawabnya. Alhamdiulillah… lega deh…
Kemudian mengalunlah sebuah lagu :
Bilangin bilangin SBY Kalla
Kami di sini tidak butuh Amerika
Si Bush-nya datang, kita usir saja
Si Bush-nya nekat, kita bunuh saja!
Dan Alhamdulillah aksi hari itu berjalan lancar. Meski sempet di border polisi waktu di depan Gedung Sate. Ya, tampak nggak akan bisa lari ke mana-mana….