Belajar dan Membaca
Ketika kita memikirkan kata “belajar” maka tergambar dalam otak kita adalah segala hal yang berhubungan dengan sekolah formal, seperti guru, murid, buku, ruang kelas, meja, bangku, papan tulis dan sejenisnya. Padahal pada hakekatnya “belajar” adalah suatu proses dari belum bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, dari gagap menjadi terampil. Dari mana seorang manusia belajar, itu tergantung dari karakter masing – masing manusia. Ada yang dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang memporak-porandakan desa dan kota. Ada yang belajar dari apel yang jatuh di samping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu.
Belajar sangat erat kaitannya dengan “membaca”. “Membaca” bukan sekedar membaca buku atau segala yang berbentuk tulisan saja. Akan tetapi membaca segala peristiwa yang terjadi di sekeliling kita dengan memfungsikan bashirah kita. Memfungsikan bashirah berarti segala sesuatu yang kita dengar, lihat dan rasakan akan membawa kita pada pencerahan ruhani dan berdampak kebajikan. Inilah yang disebut dengan Ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat). Seperti kematangan ilmu generasi shahabat yang melahirkan peradaban gemilang. Kedalaman ilmu juga berkisah tentang puluhan ribu kaum khawarij meletakkan pedang hanya dengan beberapa patah kata saja dari Ibnu Abbas ra. Ilmu juga akan membawa pemiliknya pada kearifan. Seperti Yusuf yang lebih memilih penjara sebagai tempat berlindung dari rayuan wanita bangsawan. Pada saat yang lain Andalusia menjadi saksi ketika Thariq bin Ziad menantang pasukannya untuk mati di laut atau hidup mulia membela kaum tertindas.
Akan tetapi, ilmu tidak akan datang begitu saja bak durian runtuh. Ia harus didatangi. “Dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berfikir,” kata Ibnu Abbas. Dan ini memakan waktu yang lama, dari buaian sampai ke liang lahat. Karena itu Tarbiyah Dzatiyah atau pendidikan mandiri untuk menguasai mata kuliah kehidupan, sangat besar perannya. Tiga tahun lamanya Mush’ab bin Umeir mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul. Berda’wah seorang diri, lepas dari biimbingan Rasulullah. Kegemilanganlah yang diraihnya. Maka jawabnya adalah Tarbiyah Dzatiyah.