Archive for July, 2006

Back to Bandung…

Sunday, July 23rd, 2006

Akhirnya balik ke bandung lagi setelah dua pekan di imogiri & dua hari di rumah. Sebenarnya ketika kemarin ditanya untuk melanjutkan live in di imogiri, ingin kujawab iya. Bukan masalah Apa atau Siapa. Tapi masih ada beberapa urusan di Bandung yang harus diselesaikan, termasuk Te-A..

Padahal hanya dua pekan, tapi banyak sekali yang tertinggal di sana..

Belajar dan Membaca

Sunday, July 2nd, 2006

Ketika kita memikirkan kata “belajar” maka tergambar dalam otak kita adalah segala hal yang berhubungan dengan sekolah formal, seperti guru, murid, buku, ruang kelas, meja, bangku, papan tulis dan sejenisnya. Padahal pada hakekatnya “belajar” adalah suatu proses dari belum bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, dari gagap menjadi terampil. Dari mana seorang manusia belajar, itu tergantung dari karakter masing – masing manusia. Ada yang dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang memporak-porandakan desa dan kota. Ada yang belajar dari apel yang jatuh di samping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu.

Belajar sangat erat kaitannya dengan “membaca”. “Membaca” bukan sekedar membaca buku atau segala yang berbentuk tulisan saja. Akan tetapi membaca segala peristiwa yang terjadi di sekeliling kita dengan memfungsikan bashirah kita. Memfungsikan bashirah berarti segala sesuatu yang kita dengar, lihat dan rasakan akan membawa kita pada pencerahan ruhani dan berdampak kebajikan. Inilah yang disebut dengan Ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat). Seperti kematangan ilmu generasi shahabat yang melahirkan peradaban gemilang. Kedalaman ilmu juga berkisah tentang puluhan ribu kaum khawarij meletakkan pedang hanya dengan beberapa patah kata saja dari Ibnu Abbas ra. Ilmu juga akan membawa pemiliknya pada kearifan. Seperti Yusuf yang lebih memilih penjara sebagai tempat berlindung dari rayuan wanita bangsawan. Pada saat yang lain Andalusia menjadi saksi ketika Thariq bin Ziad menantang pasukannya untuk mati di laut atau hidup mulia membela kaum tertindas.

Akan tetapi, ilmu tidak akan datang begitu saja bak durian runtuh. Ia harus didatangi. “Dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berfikir,” kata Ibnu Abbas. Dan ini memakan waktu yang lama, dari buaian sampai ke liang lahat. Karena itu Tarbiyah Dzatiyah atau pendidikan mandiri untuk menguasai mata kuliah kehidupan, sangat besar perannya. Tiga tahun lamanya Mush’ab bin Umeir mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul. Berda’wah seorang diri, lepas dari biimbingan Rasulullah. Kegemilanganlah yang diraihnya. Maka jawabnya adalah Tarbiyah Dzatiyah.

Politik itu Kotor

Sunday, July 2nd, 2006

Politik itu kotor, puisi yang membersihkannya. Begitu kata Presiden ceko, Vaclav Havel.

Bagi saya, politik itu adalah seni. Apakah ia menjadi kotor atau bersih, itu tergantung pemainnya. Sebuah biola jika dimainkan itu jika dimainkan oleh seorang yang tak tahu cara memainkannya maka yang terdengar hanyalah suara sumbang yang mengoyakkan gendang telinga.

Adalah sebuah kewajaran jika saat ini orang-orang mencibir kepada politik. Karena sebagian besar pelakunya menjadikan politik sebagi batu undakan menuju puncak kekuasaan. Hingga yang terjadi adalah sikut sana, sikut sini, seruduk sana, seruduk sini, rekayasa dan pengkhianatan adalah hal yang lazim, ditingkahi sifat suka menjilat untuk memenuhi ambisi pribadi. Bahkan “musuh kawanku, adalah kawanku.” Sungguh menjijikkan. Cukup!!!

Sekarang kita tolehkan pandangan ke sebuah sisi lain nun jauh di sudut. Yaitu sebuah sisi di mana libido kekuasaan tidak mempunyai peran. Ideolodi yang mereka perjuangkan di sini. Kecintaan kepada misi. Bukan kecintaan kepada kekuasaan.Lalu terciptalah sebuah simfoni yang mengalun indah. Setiap orang sibuk memainkan peran masing – masing tanpa banyak ribut. Dalam padu. Tak ada rasa iri. Karena mereka mengerti potensi diri mereka. Kemudian menempatkan diri sesuai dengan potensinya. Mereka menyadari bahwa sebuah rumah bukanlah rumah jika tak berpintu atau tak beratap.

Jangan harap akan mendapati suasana panas untuk memperebutkan satu kursi. Karena yang akan anda dapati adalah saling melemparkan kursi posisi itu. Bak kisah Abu Bakar ra. dan Umar bin Khattab ra. atau berharap mendengar pekikan bahagia karena meraih tampuk kepemimpinan. Sebaliknya yang akan anda dengar adalah sedu sedan. Karena kepemimpinan adalah amanah dan amanah itu berat dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hari akhir.

Akan tetapi, pernahkah mereka mengeluh? Tidak. Mereka yakin bahwa sebuah misi memang menghendaki perjuangan, pengorbanan, sekaligus keteguhan hati.

28 juni 2006 22:26