Politik itu kotor, puisi yang membersihkannya. Begitu kata Presiden ceko, Vaclav Havel.
Bagi saya, politik itu adalah seni. Apakah ia menjadi kotor atau bersih, itu tergantung pemainnya. Sebuah biola jika dimainkan itu jika dimainkan oleh seorang yang tak tahu cara memainkannya maka yang terdengar hanyalah suara sumbang yang mengoyakkan gendang telinga.
Adalah sebuah kewajaran jika saat ini orang-orang mencibir kepada politik. Karena sebagian besar pelakunya menjadikan politik sebagi batu undakan menuju puncak kekuasaan. Hingga yang terjadi adalah sikut sana, sikut sini, seruduk sana, seruduk sini, rekayasa dan pengkhianatan adalah hal yang lazim, ditingkahi sifat suka menjilat untuk memenuhi ambisi pribadi. Bahkan “musuh kawanku, adalah kawanku.” Sungguh menjijikkan. Cukup!!!
Sekarang kita tolehkan pandangan ke sebuah sisi lain nun jauh di sudut. Yaitu sebuah sisi di mana libido kekuasaan tidak mempunyai peran. Ideolodi yang mereka perjuangkan di sini. Kecintaan kepada misi. Bukan kecintaan kepada kekuasaan.Lalu terciptalah sebuah simfoni yang mengalun indah. Setiap orang sibuk memainkan peran masing – masing tanpa banyak ribut. Dalam padu. Tak ada rasa iri. Karena mereka mengerti potensi diri mereka. Kemudian menempatkan diri sesuai dengan potensinya. Mereka menyadari bahwa sebuah rumah bukanlah rumah jika tak berpintu atau tak beratap.
Jangan harap akan mendapati suasana panas untuk memperebutkan satu kursi. Karena yang akan anda dapati adalah saling melemparkan kursi posisi itu. Bak kisah Abu Bakar ra. dan Umar bin Khattab ra. atau berharap mendengar pekikan bahagia karena meraih tampuk kepemimpinan. Sebaliknya yang akan anda dengar adalah sedu sedan. Karena kepemimpinan adalah amanah dan amanah itu berat dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hari akhir.
Akan tetapi, pernahkah mereka mengeluh? Tidak. Mereka yakin bahwa sebuah misi memang menghendaki perjuangan, pengorbanan, sekaligus keteguhan hati.
28 juni 2006 22:26