Menunda
Friday, June 23rd, 2006Dalam beberapa kali kesempatan menjadi pewawancara dalam rekruitasi kepanitiaan di kampus, saya mendapati fenomena sebagian besar calon panitia mempunyai kekurangan suka menunda-nunda (mungkin saya juga masih termasuk di dalamnya). Kebiasaan menunda sebenarnya hanya akan memberatkan diri kita sendiri karena kewajiban hari ini kita bebankan pada hari esok. Sehingga kewajiban di hari esok menjadi berlipat dari seharusnya. Tengok saja masalah sampah di Bandung yang belakangan cukup populer. Masalah yang sebenarnya tidak terlampau menyulitkan jika ditangani dengan benar dan serius. Lagipula kita tak pernah tahu apakah di hari esok kita msih sempat mengerjakannya atau tidak.
Apalagi jika kebiasaan menunda ini menyangkut yang namanya hidayah. Menunda-nunda beramal dan melakukan peruba han diri setelah datangnya ilmu akan membuat hati menjadi keras dan fasik. Sebagaimana firman Allah :
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Hadiid : 16)
Saya jadi teringat dengan seorang teman yang dulu berniat untuk berjilbab. "Saya ingin menjadi baik dulu baru berjilbab", cetusnya. Pada akhirnya beliau selalu menunda-nunda niatnya untuk berjilbab. Beberapa waktu yang lalu saya mendengar kabar tentangnya, jilbab masih belum dikenakan. Bahkan pergaulannya tak lagi sebaik dulu.
Di sisi lain ada seorang teman yang keinginannya untuk berubah begitu menggebu-gebu. Dulu saya sering berdiskusi dengannya. Sekarang justru dia telah jauh melampaui saya. (Jadi instropeksi diri lagi nih)
Mengutip tulisan Anis Matta di buku membangun peradaban yang berkeimanan :
Iman itu adalah proses-proses interaksi. Bukanlah hasil akhir. Tapi hasil akhir ditentukan oleh proses proses interaksi yang terus – menerus dalam jiwa kita.
Keimanan itu adalah kumpulan – kumpulan kebenaran yang kita pahami, lalu kita sadari, kita hayati lalu kita yakini.
Keimanan itu tidak sekaligus. Tapi melalui proses – proses yang panjang Maka dibutuhkan pula latihan yang terus – menerus. Salah satu bentuk latihan itu adalah ibadah – ibadah ritual.
"Al Waqtu ka Asy – Syaif", waktu adalah pedang yang tajam. Bila engkau pandai menggunakannya, ia akan melibasmu. Ada dua hal di dunia ini yang tak dapat kembali, kata yang telah terucap dan masa yang telah terlewat. Maka seperti kata Aa’ Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari sekarang.
Wallahu a’lam bishshowab.