September 2nd, 2008 by fiee

Tetapi kini buaian mimpi telah meninggalkan kami,
dan mimpi pun telah berakhir dan hari telah tinggi.

Terik siang mulai menerpa,
dan kita sadar sepenuhnya : saat perpisahan telah tiba.

Dalam keremangan senja ingatan abadi,
kita masih akan berjumpa kembali, dan
kita akan berbicara lagi,
di situlah lagu yang kau nyanyikan untukku lebih mendalam dan berisi.

Dan apabila tangan kita bersentuhan di lain mimpi,
mari tegakkan lagi menara langit,
menjulang tinggi.

Kahlil Gibran, Sang Nabi

Lirik Lagu vs Al Qur’an

September 2nd, 2008 by fiee

Banyak yang heran aku hafal lagu-lagu pop. “Kok kamu hafal sih?” begitu biasanya komentar mereka. Kenapa ya? Aku sendiri juga heran. Biasanya sih denger dua-tiga kali langsung hafal. Kalo nggak denger pas nonton TV, ya di angkot (secara angkoters…). Apalagi tetangga sebelah kalo pagi-pagi biasa konser (maaf ya pak Willy). Begini repotnya kalo rumah tetangga satu tembok dengan rumah kita.

Balik lagi, pertanyaan tadi biasanya berlanjut, “berarti cepet dong hafal Qur’annya?” Yang saya heran juga, kok susah ya ngapal Qur’an. Kalo cuma denger doang, berapa kali pun tetep aja susah. Musti bener-bener ngapal, namanya juga ngapalin. Kapalan deh… Itu pun kadang juga perkembangannya…
lambat… sebulan ini ngapal Al Qiyamah juga belum kelar… so how?

Any tricks? Sebenernya musti rajin aja sih ngulang hafalannya. Sistem kejar setoran. Kalo nggak digituin tampaknya gak bakal ada perkembangan. So, masalah terbesarnya adalah males.

―bunuh males―

Sambil dengerin murottal, setelah kemarin gagal setoranhafalan.

Bojongsoang, 2 Sept 2008

August 11th, 2008 by fiee

Takut Anda kepada Allah dalam segala urusan hidup Anda pada setiap waktu,
sikap Anda yang menjadikan keridhaan Allah sebagai tujuan Anda,
kesediaan Anda untuk mematuhi undang-undang-Nya,
penolakan Anda terhadap tiap-tiap keuntungan yang anda dapat atau mungkin Anda dapat dengan durhaka kepada-Nya,
dan kesabaran Anda atas tiap-tiap kerugian yang menimpa Anda karena taat kepada-Nya,
itu semua termasuk ibadah Anda kepada Allah Swt.

Kehidupan anda dengan jalan ini, dari awal dan akhirnya, adalah ibadah….
Makan, minum, tidur, jaga, berdiri, berjalan, berkata-kata, dan diam adalah semata-mata sebagian ibadah dalam suatu kehidupan seperti ini.

-Abul A’la Maududi-

Borobudur (artikel jaman SMA)

July 28th, 2008 by fiee

          Borobudur is one of the attractive monuments in Central Java. It is located in the regency of Magelang. It is about 41 km from Yogyakarta. The site of Borobudur is ideal. It beautifully surrounded by hills, on the north and northeast by the mount Merapi and Merbabu, on the northwest by mount Sumbing and Sundara.

          Borobudur is a Buddhist temple. It designed by the ancient Javanese architect. The Syailendra Dinasty built it in the ninth century. It consists of several storeys. They form terraces with their stupas carved with a lot of interesting reliefs. The reliefs depict the life of Buddha Gautama and sacred stories of Buddhism. It is not easy to recognise the stories or the scenes in the reliefs. Because firstly the sculptures and the designs did not keep the original manuscript in executing their work, secondly techniques of carving obscured the meaning of the reliefs. It could be because the sculpture did not make any differences between the deserve personalities for example, kings or Gods, Brahmans or priests. The sculptures did not carve their spesifics outstanding personalities.

          There are many stupas. One of them is the main stupa. It is the biggest of all. It is located in the top of the temple. According the Buddhist cosmology, this universe divided into three major parts. They are Kamadhatu, Rupadhatu, and Arupadhatu. Kamadhatu is the phenomenal world for common people. The reliefs here depict the scenes of karmawibangga. It means the law of cause and effect. We can see them in the southeastern at the base of the temple.

          Rupadhatu is the transitional sphere in which human beings release from worldly matter. We should always turn left to do pradaksima. It consists of four square galleries. The reliefs here depict to gandha wiyuha, lalita wistara, jataka, and awadhana. Lalita wistara is the reliefs depict the life story of Buddha Gautama since he was born in lumbini garden. He was the prince of king Chudadana from Kapilawastu kingdom. One day Siddhartha went out of his palace and on his way out of his palace, he saw four signs such as a blind man, a sick man, a dead man, and a priest. Then he decided to leave the palace and wandered as a hermit, finally he meditated under a bodhi tree and got supreme wisdom and he became a Buddha Gautama. For the first time he taught at the deen park Benares town. You can see them in the upper serves of the main wall of rupadhatu.

          Arupadhatu is the highest sphere the abode Gods and we will come into the world of meditation. It has three terraces. They have neither reliefs nor ornaments. They adored with many latticed dagobs arranged in the three concentric circles and surrounding the main stupa. They contain the Buddha statue. The holes in the dagobs of the first and second rows are lozenges, while the holes in the dagobs of the third series are square. The purpose of these differences is unknown.

         There are many lion statues. They intended to be the guard of the threshold. In a book, it says that Siddhartha come from Sakya Simba dynasty that had a lion symbol. Beside that, lion was the Buddha’s vehicle when he takes to the nirvana or the paradise. There are many statues in sitting and standing position. The hand positions of the Buddha statues in the sitting position are different. They have certain names and meaning.

Vocabulary

Storeys: floor in a building

Stupa: dome enclosing a statue of Buddha.

Carve: form by cutting away material from stone or wood

Reliefs: (method of) carving, etc in which the design stands out from a flat surface
Sculpture: art of making figure, statues, etc in stone wood

Obscured: not easily seen or understood

Hermit: a person who lives alone and simply, esp. for religious reasons

Abode: house or home

note:
maaf kalo banyak structure yang salah…

July 7th, 2008 by fiee

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

Oleh :
Sapardi Djoko Damono

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

Tak ada yang perlu dipertengkarkan, bukan? Tentang siapa yang paling penting, tentang posisi siapa yang paling penting. Toh, semuanya tak akan bisa berjalan tanpa adanya sinergi dari seluruh komponen. Hanya perlu menyadarkan bahwa masing-masing mempunyai peran penting dan segalanya takkan berjalan dengan baik tanpa adanya sinergi.

Bojongsoang, 080708
Jelang rapat sama Ramlan.
Ramlan is Back. That’s your job untuk mensinergikan pengurus KammDa. ^_^

pernikahan

April 2nd, 2008 by fiee

Pernikahan akan membawa seseorang ke dalam sebuah fase
yang berbeda dari sebelumnya. Dari individu menjadi sosial (keluarga). Dalam
sebuah negara (peradaban), keluarga merupakan satuan terkecil (namun besar)
yang menyusun tegaknya negara (peradaban). Maka, keluarga menentukan hitam
putihnya sebuah negara (peradaban). Karena dari sinilah kelak akan tercipta
generasi baru. Masa depan Indonesia —bahkan umat manusia— adalah generasi ini.
Generasi yang tumbuh dalam lingkungan kebaikan, yang berhasil memenangkan kecenderungan
kebaikannya (taqwa) atas ego kejahatannya (fujuur).

Membangun sebuah keluarga baru, dengan menikah, sama saja
dengan membangun sebuah peradaban. Ya, menikah bukan hanya sebuah legalisasi
hubungan cinta. Tapi sebuah tanggung jawab untuk membangun peradaban Islam. Karenanya
kita tidak bisa menganggap enteng sebuah pernikahan. Menginginkan pernikahan
tanpa melakukan persiapan apapun. Atau, menikah tanpa mempunyai visi tentang
pernikahan itu sendiri.

 

Bojongsoang,31
Maret 2008

Buat
kawan-kawan yang telah menikah dan akan segera menikah….

 

 

 

 

Mucocele

March 27th, 2008 by fiee

 Mucocele (Myoo-koh-seal) adalah sebuah benjolan di dalam mulut. Hal
ini dapat terjadi jika kelenjar ludah terluka atau tersumbat. Anda memiliki
banyak kelenjar ludah dalam mulut yang menghasilkan ludah. Ludah tesebut
mengandung air, lendir, dan enzim. Ludah dikeluarkan dari kelenjar ludah
melalui saluran kecil yang disebut duct
(pembuluh). Terkadang salah satu saluran ini terpotong. Ludah kemudian
mengumpul pada titik yang terpotong itu dan menyebabkan pembengkakan, atau mucocele. Pada umumnya mucocele didapati di bagian dalam bibir
bawah. Namun dapat juga ditemukan di bagian lain dalam mulut, termasuk langit-langit
dan dasar mulut. Akan tetapi jarang didapati di atas lidah.

 

Pembengkakan dapat juga
terjadi jika saluran ludah (duct)
tersumbat dan ludah mengumpul di dalam saluran. Jika pembengkakan terjadi
karena submandibular duct, mucocele tersebut dinamakan ranula. Sebuah ranula mempunyai ukuran yang cukup besar dan muncul di bawah lidah.

 

Gejala

Sebagian besar mucocele tidak terasa sakit, namun cukup
mengganggu. Terutama pada saat makan dan berbicara. Mucocele yang dangkal bisa pecah sendiri dan mengeluarkan cairan
berwarna kekuning-kuningan. Sedangkan yang lebih dalam bisa bertahan lama.

 

Penyebab

Pada umumnya mucocele disebabkan karena adanya
trauma, seperti tergigit atau pukulan di wajah. Juga obat-obtan yang mempunyai
efek mengentalkan ludah.

 

Perawatan

Terkadang mucocele dapat sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi, jika
dibiarkan tanpa perawatan akan meninggalkan luka parut. Mucocele biasanya harus diangkat, bisa dengan bedah maupun laser.
Namun ada kemungkinan pembedahan dapat menyebabkan munculnya mucocele lain.

Beberapa dokter menggunakan
injeksi corticosteroid sebelum melakukan pembedahan, ini terkadang dapat
mengempiskan pembengkakan. Jika berhasil, maka tidak perlu dilakukan
pembedahan.

 

 

REal Life

January 12th, 2008 by fiee

Ahlan wa sahlan fi indunisiya…!!
Welcome to Bandung lautan juang…!!
Selamat datang di dunia nyata…!!

Itulah kata-kata yang menyambutku kemarin, setelah 2 bulan kabur dari peredaran. Rehat ke tanah suci yang semoga benar-benar me-refresh diriku. Dan sekarang udah kembali lagi ke peradabanku. Dua hari ini sedang me-reload semuanya. Kembali bergelut dengan permasalahan-permasalahan,tugas-tugas yang harus diselesaikan (Te-A, Evaluasi tahunan -sudah setahun ya?-, rakerda lagi…, mengkader calon pengganti -bisa-bisa..!!- ), pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab (kapan sidang? kapan nikah? -halaah..-), setting ulang semua rencana hidup…

Smangat..!!SmaNgat..!!

Kita memang membutuhkan rehat, untuk merenungi hidup, untuk mengisi energi, untuk kembali menegakkan punggung… Hingga kita menjadi lebih arif mengartikan hidup, lebih bijak menentukan langkah, lebih tegar menanggung beban…

Tapi inilah hidup..!! Bergelut dengan masalah. Hingga kita bisa mewariskan kehidupan yang lebih baik..

Bojongsoang City,
13 Jan 2008

September 19th, 2007 by fiee

tempointeraktif.com : Laporan
Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa Rabu (19/9) kemarin
mengaitkan mantan presiden Suharto dengan raibnya aset Indonesia
sebesar sebesar US$ 15 hingga 35 miliar (sekitar Rp 141-327 triliun)
antara kurun 1967-1998
.

Comment :
- Dikemanain ya uangnya? Lumayan buat nyicil utang Indonesia.
- Tegakkan supremasi hukum!
- ???

Ruang Bermain

September 19th, 2007 by fiee

Dunia anak adalah sebuah dunia yang begitu menarik. Dunia tanpa kesedihan. Bermain adalah cara mereka bersenang-senang. Bermain adalah cara mereka belajar. Bermain adalah cara mereka bersosialisasi. Bermain adalah cara mereka mengenal dunia. Maka memberi anak-anak ruang untuk bermain adalah penyempurnaan pendidikan yang diberikan untuk mereka. Ya, sebuah pendidikan yang integral dan non-dikotomik.

Namun, lihatlah sekeliling kita. Betapa ruang-ruang itu telah tergusur oleh kepentingan-kepentingan orang-orang dewasa. Setiap jengkal tanah begitu diperhitungkan secara ekonomi. Kota penuh sesak dengan pemukiman, mall-mall, dan perkantoran. Tapi tidak menyisakan tempat bermain bagi anak-anak. Tidak akan mendatangkan profit, begitu kaum oportunis berpikir. Maka gang-gang sempit beralih fungsi menjadi arena bermain. Bagi sebagian anak-anak, mereka kemudian menjadi lebih akrab dengan mall-mall. Di sini budaya konsumtif mulai tertanam. Tambang uang bagi kaum kapitalis.

Sekolah-sekolah telah menjauh dari tujuan pendidikan. Sekolah adalah pencetak kaum pekerja dan murid-murid adalah pencetak nilai-nilai ujian. Tugas murid adalah belajar berhitung dan menghafal, dari pagi sampai sore, enam hari dalam seminggu. Bergelut dengan teori dan teori. Ya, Nyaris tak ada waktu dan tempat lagi untuk bermain bagi anak-anak.

(bersambung…)